Kala minggu yang menyejukan bagi setiap sektor pekerja maupun elemen masyarakat lainnya. Seakan menjadi sebuah genderang kekacauan menghancurkan. Genderang yang dimulai dengan sepucuk surat berdogma ketakutan oleh si baik WHO. Tiba saat dimana surat ditanggalkan oleh World Health Organitation (WHO) kepada para konstitusi yang bermaksud mendesak negara-negara fokus pada deteksi kasus dan kapasitas pengujian laboratorium, terutama di negara-negara berpopulasi besar dan dengan kemampuan sistem kesehatan yang berbeda-beda di wilayah negara terdampak.
Sontak pasca ujaran WHO pada tanggal 10 Maret 2020 diterima oleh pimpinan oligarki negara ini, sulut respon pemimpin bangsa taklukan ini mengagetkan subjek percobaanya. Jokowi mulai berdakwah melantur kemudian. Walaupun tetap saja untuk melanggengkan orientasinya yaitu investasi. Layaknya tokoh pahlawan yang imajiner, dia berakting menjadi juru selamat bangsa Setengah Jajahan Setengah feodal(SJSF) ini dengan meningkatkan penanganan Covid-19 melalui Keppres Nomor 7/2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Namun sialnya Jokowi justru menunjukan sisi kelucuannya dengan tidak menetapkan status darurat nasional dan memilih menghimbau masyarakat agar membatasi aktivitas di luar rumah. Kemudian, mengklaim telah melakukan Langkah ekstra dalam menangani pandemik global Covid-19 ini.
Mantra sakti bernama Keppres menghipnotis pemimpin teritorial negara untuk berbuat hal serupa. Jokowi meminta para kepala daerah menetapkan status daerahnya masing-masing. Begini ucapnya, ”Sebagai negara besar dan negara kepulauan, tingkat penyebaran Covid-19 ini derajatnya bervariasi antardaerah,” pada minggu 15 maret 2020.
Salah satu sektor yang semerbak diperbincangkan adalah mahasiswa. Civitas akademika di salah satu perusahan penididikan Universitas Diponegoro memproklamirkan dukungan terhadap bangsa uthopis ini. Prof. Dr. Yos Johan Utama, S.H, M.Hum sebagai CEO perusahaan ini sudah merilis Surat kehendak untuk meliburkan para clientnya yaitu mahasiswa. Berdasarkan surat edaran rektor No.20/UN.7.P/SE/2020 yang dikeluarkan tanggal 14 maret 2020 kegiatan transaksi jual beli ilmu pengetahuan pun diliburkan. Bukan hanya itu, kegiatan distribusi kekuasaan ormawa juga dihentikan. Sungguh ini akan mengganggu kegiatan produksi para pemilik modal mahasiswa yaitu orang tua.
Kegiatan pengajaran akan diliburkan selama seminggu terhitung mulai tanggal 16 – 21 maret 2020. Selepas itu, sistem pembelian keilmuan akan dilaksanakan dengan daring/online. Hingar kebingungan mulai ditebar hingga kini. Sekelompok pengusaha yang mengatasnamakan dirinya sebagai civitas akademika, mulai merancang kerangka untuk membatasi gerak kebebasan dari mahasiswa. Bagaimana tidak? Fungsi anggaran yang telah diperjuangkan oleh para legeslasi mahasiswa seperti digagalkan begitu saja.
Suara hingar teriakan umapatan kekesalan akibat pemberhentian gerak ormawa seakan terdengar di tengah sepinya kampus. Para kepala eksekutif mahasiswa tak mau kalah untuk terlibat dalam mosi kegegeran periodenya. Respon cepat menanggapi surat kuasa sang CEO tertanggal dalam rapat tak terjadwal. Teringat teriakan anarko kampus, “Kampus tanpa Presiden mahasiswa”. Kian sulit terdengar orasi “Hidup Mahasiswa” yang kini hanya terpenjara di dalam kos mereka. Mahasiswa idealis yang tenggelam dalam sesak tangis menyedihkan. Lihat, betapa kini elemen mahasiswa berupaya menjadi tenaga medis sok manis. Suara mayoritas kebohongan dengan dalih kepudulian pada posting sosial media masing-masing.
Nyaring suara pahlawan mahasiswa yang berbondong-bondong meneriakan rapat tak terjadwal. Sebagai juru selamat program kerja mereka menginisiasi untuk penundaan abdinya. Sialnya, perihal keberlangsungan pengajaran mahasiswa saintek yang mengharuskan untuk praktek tak terdengar sedikit pun dalam pembahasan berbusanya. Kabar Uang Kuliah Tunggal (UKT) pernahkah tersinggung didalamnya? Siapakah partikel bebas ini yang tak pernah duduk dalam kursi kekuasaan. Maka begitulah suara sayup gagasan untuknya hanyalah gerutu penuh acuh.
Hari-hari malas selama libur nasional sangat menyenangkan. Libur ekawulan pasca pengajaran memang mengintuisi. Pulang ke kampung halaman adalah keharusan pilihan. Sepi melanda kampus yang riuh di persero Undip maju berganti upaya advertising sang manager perusahaan yaitu pimpinan ormawa. “Syukurlah”, ujar manager atas penjualan masker dan alcohol yang laris di pasaran.
Hari berjalan dengan warna yang sayup, topeng ketakutan terpakai secara egois oleh si orang kaya. Masker yang pada dulunya sangat mudah ditemukan, kini menjadi barang prestige. Begitu lucu Ketika membaca instruksi dari penguasa daerah yang menyatakan akan memberlakukan sistem lockdown. Perut ini serasa sakit tak henti akibat menertawakan jokes dari para kolega oligarki. Sistem lockdown yang diadopsi carut marut tak karuan. Mulai dari keterbutuhan pangan yang tak pernah disinggung, lokasi isolasi yang hanya menjadi kepunyaan sang kaya, distribusi logistic Kesehatan yang dimonopoli, transportasi yang masih bebas beroperasi, dan edukasi penanganan virus yang ganjal.
Pernahkah terdengar sebuah berita tentang konsumsi daging kucing? Kala itu, jagat media dikejutkan oleh video seorang pria dewasa yang menelan hidup-hidup seekor kucing. Kejadian serupa ternyata pernah ada dan dimuat dalam media Kumparan. Kumparan menuliskan kejadian tersebut terjadi pada tanggal 29 Juli 2019 di pasar Jiung Kemayoran, Jakarta Pusat. Sontak video viral di media sosial, pihak kepolisian setempat pun tak mau ketinggalan dan langsung merespons kejadian itu.. Kapolsek Kemayoran Kompol Syaiful mengatakan, “pihak yang bersangkutan sudah tidak ada.” “Menindaklanjuti kejadian itu, pihak kepolisian pun akan menyelidiki kasus tersebut lebih lanjut,” ujar Kompol Syaiful. Media sosial terasa tersihir dengan kekesalan. Bagaimana tidak, kucing adalah hewan yang menggemaskan, dan aku tidak akan tega siapapun menyakitinya, komentar putri dalam laman Kumparan. Hal tersebut merupakan sebuah contoh bagaimana media bekerja. Informasi yang belum valid langsung menjadi viral dan menggemparkan jagad dunia maya. Sesuatu yang lumrah terjadi akibat cepatnya informasi yang beredar di media sosial saat ini.
Tahukah kejadian serupa juga pernah terjadi pada masa lampau? Kejadian tersebut terjadi pada era Perang Kemerdekaan Indonesia pada 1945-1949. Para pejuang kemerdekaan menjadikan daging kucing sebagai pencegah kelaparan dan peningkatan kekuatan tempur. Kebiasaan mengonsumsi daging kucing menjadi rutinitas bagi pasukan tentara rahasia tertinggi (Terate) di front Subang, Jawa Barat. Menurut Mayor Jendral Moestopo, hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk mencegah kelaparan dan meningkatkan kemampuan tempur para pasukannya. “…..Supaya dapat melihat dalam gelap layaknya kucing,” tulis Cribb dalam buku Ganster and Revolutionaries, The Jakarta People’s Militia and Indonesian Revolution 1945-1949. Daging kucing, daging anjing bahkan daging harimau sekalipun akan kita konsumsi, mengingat situasi genting yang terjadi pada saat itu, kata Mayjen Moestopo. Penjelasan tersebut mengisyaratkan bahwa, sebagai pemenuhan kebutuhan perut dan supaya tidak mati kelaparan mereka sudah terbiasa memakan daging apa pun. Namun dengan itu, kucing secara tidak langsung merupakan salah satu hewan berjasa untuk bangsa ini berkat menjadi santapan para pejuang.
Konsumsi daging kucing memanglah tidak lazim untuk masyarakat sipil seperti pasukan Terate, mengingat kucing merupakan salah satu hewan yang populer untuk dipelihara. Kepopuleran kucing tersebut diperkuat dengan riset sebuah asosiasi survei hewan peliharaan bernama Japan Pet Food Association (JPFA) di Tokyo, Jepang merilis estimasi jumah kucing peliharaan sepanjang 2017 mencapai 9,5 juta ekor. Tentunya, dengan jumlah yang besar tersebut belum termasuk kucing liar dalam riset JPFA. Hal tersebut menunjukan bahwa banyaknya populasi kucing dalam kehidupan kita sehari-hari.
Sepanjang jalan perkotaan dan perdesaan, akan dengan mudah ditemukan kucing liar berlalu-lalang. Ternyata bukan hanya di jalanan, di tempat-tempat umum seperti rumah makan atau sekolah sekalipun banyak kucing liar berkeliaran. Maka tak jarang kita melihat, seorang ibu-ibu yang mempersenjatai dirinya dengan sapu untuk mengusir kucing-kucing ditempat miliknya. Sebuah contoh lain bertempat di sebuah kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, kucing liar pun tak kalah eksis di kalangan mahasiswa. Sebuah media cuhat mahasiswa berbasis media komunikasi Line Pesan Bocah Undip (PBU), dituliskan ungkapan kepopuleran dari kucing yang ada di UNDIP. Seorang mahasiswa yang tidak menyatakan identitasnya menuliskan, “Aku suka kalo lagi di kantin Sekolah Vokasi, aku biasa main sama kucing yang lucu-lucu.” Tulisan tersebut lantas mendapatkan respon dari mahasiswa yang mengalami hal serupa.
Mahasiswa lain menuliskan, “Kucing di Undip keren ya, dia sering ikut kelas, ikut nimbrung saat keramaian dan bahkan sering banget dia ikut waktu diskusi loh.” Hal itu juga memberikan dampak untuk kucing mengalami tingkat kepopuleran pada masa 2018. Pada tahun tersebut, ternyata menginspirasi sekelompok mahasiswa dengan keorganisasiannya. Organisasi bernama Front Mahasiswa Nasional (FMN), menjadikan kucing sebagai lambangnya. Agung, salah satu anggota organisasi tersebut menyatakan, “Kucing sangat mudah dijumpai, aku juga yakin banyak yang menyukai. Supaya beda juga sih dari organisasi massa yang lain, biar nyleneh.” Mahasiswa itu bercerita , namun cerita itu relatif berbeda tentunya dengan era kemerdekaan saat melawan kolonial Belanda. Agung menambahkan, “Lambang kucing ini akan menimbulkan daya pikat tersendiri.”
Cerita sederhana mengenai kucing ternyata mampu menginspirasi sebuah organisasi menjadi lambang suatu Organisasi Massa (Ormas) mahasiswa. Salah bentuk lain kepopuleran kucing dari sisi yang berbeda. FMN merupakan organisasi yang hadir dalam pergerakan, merasa terpikirkan akan keseharian kucing tersebut. Kucing ternyata bisa dijadikan sebuah simbol untuk menyinggung mahasiswa lain. Bayangkan saja, kucing terkesan hadir dalam kegiatan mahasiswa seperti diskusi, sedangkan mahasiswa lain belum tentu melakukan hal serupa. Itulah mengapa muncul inspirasi kucing menjadi simbol baru di FMN ranting Undip. Serasa angin segar untuk FMN dikarenakan inspirasi itu mucul setelah mengalami kesulitan beradaptasi di Undip sejak tahun 2017.
FMN merupakan Ormas mahasiswa skala nasional yang ingin mewujudkan cita-cita untuk pendidikan yang ilmiah (bersifat keilmuan), demokratis untuk seluruh rakyat, dan mengabdi kepada rakyat melalui garis perjuangan demokrasi nasional. Demokrasi Nasional yang dimaksut adalah garis perjuangan yang dilandasi persamaan kepentingan antara Kelas buruh, kaum tani, dengan Kelas borjuasi kecil dan menengah (Kelas berkeilmuan) untuk menegakkan keadilian sosial bagi Kelas sosial yang tertindas. Mahasiswa yang diharapkan adalah, mahasiswa yang mampu mengawal keberjalanan bangsa ini sehingga mereka akan berlajar, berorganisasi dan berjuang untuk kesejahteraan rakyat.
FMN sebagai ormas mahasiswa, mempunyai tugas untuk membangkitkan, mengorganisasikan dan menggerakkan mahasiswa agar terlibat aktif dalam perjuangan massa. FMN juga mempunyai peran dalam memperjuangkan kebudayaan maju untuk pendidikan. Sebagai contoh kebudayaan untuk pendidikan yang sangat tidak maju adalah kekerasan terhadap siswa di Sekolah Dasar kawasan Sei Rempah, Deli Serdang, Sumatra Utara. Wakil ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan, tindakan guru berinilsial RM yang marah akibat muridnya yang berinisial MBP tidak membawa tanah humus atau kompos untuk penyubur tanaman di sekolah. Sialnya, hukuman yang diberikan RM sangatlah tidak mendidik yaitu dengan menghukum muridnya untuk menjilat WC sebanyak 12 kali dengan dalih siswa akan jera. Di sisi lain, FMN juga memperjuangkan mahasiswa sebagai tenaga produktif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di dalam bekerja. FMN sebagai ormas legal demokratik yang berada di perkotaan dengan melancarkan perjuangan demokrasi nasional, akan selalu didorong untuk bertalian erat dengan gerakan rakyat.
FMN pun telah mengalami perkembangan dialektika dalam mengembangkan organisasi menjadi alat perjuangan mahasiswa di dalam kampus. Segala capaian dan hambatan tentu telah dihadapi seluruh jajaran organisasi. Bagi dunia ormass mahasiswa di Tanah Air, FMN termasuk masih dini dan dirasa perlu banyak belajar teori-teori dan praktik maju di dalam berjuang. Banyak organisasi-organisasi mahasiswa yang telah berdiri sebelum FMN didirikan, seperti Gerakan Mahasiswa Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Terlepas dari banyaknya organisasi di kampus, FMN memberikan ruang untuk mengembangkan pikiran dengan penggambaran seekor kucing. Secara tidak langsung FMN ingin mengatakan bahwa, seekor kucing saja seperti mau untuk mengikuti acara-acara kemahasiswaan. Sebuah contoh, diskusi tentang kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang digelar oleh Badan Kelengkapan Majelis Wali Amanat (BK MWA) Undip pada bulan desember tahun lalu, hanya dapat mengumpulkan kurang dari 50 mahasiswa. Padahal BK MWA merupakan salah satu dari organisasi tertinggi di Undip, mereka sudah memberikan gambaran untuk kenaikan UKT pada tahun 2020. Pertanyaan untuk mahasiswa Undip adalah, apakah mahasiswa Undip merasa tidak keberatan akan kenaikan UKT itu? Padahal ada ratusan mahasiswa Sekolah Vokasi yang melakukan banding UKT menurut rilis yang dikeluarkan BEM Sekolah Vokasi. Hal tersebut sedikit menggambarkan masih terdapat mahasiswa yang kesulitan untuk membayar UKT. Lalu muncul lagi pertanyaan, apakah kita mahasiswa menunggu kucing untuk mengubah keadaan pendidikan tinggi layaknya revolusi pada era kemerdekaan?
Indonesia merupakan negara maritim yang kekayaan alamnya sangat melimpah ruah. . Pulaunya nan indah, dengan berbagai pesona alam tersaji memukau pandangan mata. Sebut saja, labuhan bajo di Nusa Tenggara Timur. Tak asing bukan, saya yakin tidak hanya sekali kita mendengar tentang destinasi itu. Destinasi wisata alam yang sangat memanjakan mata, dekat dengan pulau Komodo. Indonesia bukan hanya memiliki labuhan bajo, melainkan banyak pulau yang tak kalah eksotis darinya. Perairan kaledupa di Wakatobi misalnya, tempat yang terkenal dengan keindahan alam dan terumbu karang beraneka ragam. Maka tak heran, para penyelam dari mancanegara pun menyempatkan untuk mendatanginya. Tidak hanya itu, pulau ini juga menyimpan rahasia budaya suku Bajau yang tumbuh bertahun-tahun lamanya.
Pulau kaledupa mempunyai pemukiman pelaut yang tinggal sejak tahun 1960-an. Suku tersebut bernama suku Bajau, yang lebih tepatnya bermukim di Kawasan Sampela. Suku Bajau merupakan manusia laut yang hidupnya berpindah di sekitar perairan Filipina, Malaysia,Indonesia dan akhirnya dipaksa untuk menetap sampai saat ini. Itulah mengapa, suku Bajau baru bermukim di Sampela pada tahun 1960-an. Suku Bajau di Sampela tinggal tak jauh dari daratan, mereka bermukim di rumah-rumah panggung diatas permukaan laut. Inilah yang membedakan suku Bajau di Sampela dengan suku Bajau yang lain. Suku Bajau yang menetap di tempat lain biasanya tinggal secara tradisional di sampan dan berpindah-pindah tempat (nomaden). Mereka sering kali ke daratan untuk menukarkan ikan hasil tangkapanya dengan air bersih . Makanan pokok yang mereka konsumsi pun merupakan hasil melaut itu sendiri.
Ikan merupakan penghidupan dari suku Bajau, yang kini mulai menurun hasilnya. Sejalan dengan waktu dan kemajuan zaman, masyarakat bajau merasakan berbagai perbedaan yang mandalam terjadi di lingkungannya. Mereka sadar, akan air yang semakin naik volumenya. Ikan-ikan di sana juga makin sulit didapatkan serta terumbu karang yang kesehatannya makin hari makin menunjukan perubahan. Laut yang selama ini mereka rawat, seakan membisikan kesakitan yang dirasakan.
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tahun 2018, menemukan 1.067 site atau 35,18% terumbu karang di Indonesia berada dalam kategori jelek atau rusak. Kategori dengan kondisi cukup mengisi dengan 366 site, 245 site tergolong baik, dan hanya 70 site yang masuk ke dalam kategori sangat baik. Terumbu karang dalam kategori jelek menunjukan peningkatan setiap tahunnya. Faktor perubahan iklim, pemutihan karang, dan hama yang mulai merusak vegetasi dari karang laut tersebut. Hama itu muncul, bisa melalui faktor tidak alami “antropogenik” yang timbul karena aktifitas manusia. Aktifitas manusia merupakan faktor yang berpotensi besar untuk dapat merusak ekosistem laut. Penangkapan ikan yang membabi buta, pengeboman, pencemaran air oleh limbah rumah tangga misalna . Suku Bajau juga menyadari, bahwa populasi mereka terus bertambah. Mereka khawatir, sumber daya yang mulai tidak berjalan dengan peningkatan populasi mereka.
Ikan-ikan besar dulu menjadi tangkapan masyarakat suku Bajau, kini hanyalah ikan-ikan kecil yang sering mereka dapatkan. Penggunaan pestisida, racun, dan detergen membuat laut menjadi sakit. Ditambah lagi dengan permintaan ikan yang bertambah di pasaran. Penangkapan besar-besaran guna memenuhi kebutuhan pasar akan mengurangi sumber daya yang ada. Masyarakat bajau dulunya menangkap dengan alat seadanya, kini mulai menggunakan jaring supaya tangkapanya lebih cukup untuk pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Keresahan warga bajau tersebut, di ungkap dalam film dokumenter TheCallFromtheSea yang disutradarai oleh Taylor McNulty. Film tersebut berdurasi 15 menit yang dirilis pada tahun 2016.
Suku Bajau di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara mempunyai cerita yang relatif berbeda dari suku Bajau di Sampela. Masyarakat suku Bajau di Gorontalo masih bisa menikmati tangkapan ikan yang melimpah. Sementara itu, suku Bajau di Sulawesi Tenggara merasakan air laut tercemar dan terumbu karang yang rusak akibat adanya industri nikel dengan limbahnya yang dibuang ke laut. Suku Bajau di Torsiaje, Gorontalo memang menggantungkan hidupnya pada hasil laut. Namun, tak membuat nilai-nilai luhur yang dianut tetap dijaga dengan baik. Pola kehiidupan kolektif yang dibangun dalam ruang-ruang yang terbatas di atas sebuah sampan. Keterbatasan itulah yang menjadikan mereka menjadi manusia laut yang Tangguh di tengah luasnya lautan.
Negara memalui perangkat-perangkat desa, mulai memberikan rumah di daratan. Walaupun kehidupannya mulai tergeser ke daratan, hal itu tidak menjadikan pola kehidupan suku Bajau berubah dengan mata pencahariannya di darat. Mereka memang hidup di darat kebanyakan, tetapi menjadi nelayan di lautan yang luas sudah mandarah daging pada diri mereka. Di kutip dari laman National Geograpic Indonesia, seorang kandidat doktor di Pusat GeoGenetika Universitas of Copenhagen bernama Melissa Liardo mengatakan, Suku Bajau ternyata telah beradaptasi secara genetis supaya bisa menghabiskan waktu lebih lama di dalam air. Hal itu dibuktikan dengan mengamati dan tinggal bersama di wilayah Jaya Bakati, Indonesia. Wilayah tersebut merupakan salah satu tempat suku Bajau bermukim.
Perbedaan secara genetis yang dialami oleh suku Bajau, menjadikan mereka mampu untuk mengekploitasi dunia bawah air dengan leluasa. Suku nomaden yang mulai dibatasi dengan kondisi kehidupan nyata mereka di darat. Manusia laut yang dimukimkan oleh penguasa negara dengan dalih bantuan fasilitas yang omong kosong. Keterbatasan mulai dari fasilitas umum dan fasilitas sosial menjadikan mereka semakin terhimpit oleh keadaan. Suku Bajau memang sebagian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, nelayan-nelayan tersebut harus tergusur lagi dengan adanya perusahaan tambang yang beroperasi disana. Tambang tersebut tidak menggangunya secara langsung, melainkan melalui dampak pencemaran limbah yang merusak ekosistem dengan limbah beracunnya. Akibatnya, nelayan suku Bajau harus menuju tengah lautan atau menyisir pulau yang relatif jauh dari pemukimannya. Pemerintah dalam beberapa dekakde terakhir, mencoba untuk mengirim orang bajau di Sulawesi Tenggara ke daratan. Tujuanya adalah supaya mereka mempunyai akses bantuan, Pendidikan, dan lain-lain. Pergeseran kehidupan masyarakat Bajau mulai terlihat saat mereka dimukimkan.
Rumah produksi WatchDoc Documentary merilis film dokumentasi suku Bajau dengan judul TheBajau. Film yang berdurasi sekitar 80 menit ini, menyajikan rekaman jejak budaya dan kehidupan masyarakat Bajau yang tersisa. Dhandy Dwi Laksono sebagai pemrakarsa rumah produksi WatchDoc, menggandeng Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Gorontalo dalam pembuatan film ini.
TheBajau menceritakan hal miris ketika pada tahun 2014, aparat pemerintah menangkap 500 warga suku Bajau di Kalimantan Timur. Mereka dianggap illegal karena tidak punya identitas kewarganegaraan. Penangkapan tersebut dianggap sebagai tindak pencurian ikan di perairan Indonesia. Negara-negara di Asia tenggara ternyata juga melakukan hal serupa terhadap orang orang bajau. Pendataan sebagai warga negara bukan menjadi masalah ketika pemerintah tidak mencoba untuk menelanjangi kebudayaan mereka. Mereka mulai diperkenalkan dengan kehidupan daratan yang kontinental. Sebagian warga Bajau sudah mulai bekerja sebagai buruh, pedagang dan pekerjaan-pekerjaan di luar kemampuan asli mereka.
Peradaban bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim mulai dipertanyakan. Suku Bajau merupakan contoh kecil pelucutan identitas sebagai manusia laut. Mereka yang biasa mencari ikan sebagai nelayan dan menjaga lautan, Kini mereka kesulitan bekerja karena adanya proyek-proyek pemerintah yang mengganggu kealamian daripada laut. Proyek yang jelas terlihat di kepulauan Konawe adalah pertambangan. Pertambangan tersebut bergerak sebagai pengolahan nikel yang nyatanya menghasilkan limbah berbahaya yang merugikan ekosistem laut.
Ekosistem laut merupakan warisan yang sebenarnya harus dijaga dengan baik guna keberlangsungan kehidupan mendatang. Namun, di tangan orang-orang tidak bertanggung jawab hal itu dihiraukan untuk kepentingan perut koorporasi besar. Dampak lingkungan yang destruktif bahkan dirasa bukan masalah yang besar bagi mereka, terlihat dengan adanya indutri yang berlimbah berbahaya saja dibiarkan. Bayangkan saja, bila hal-hal tersebut terjadi di objek-objek alam negara ini. Apakah bisa anak cucu kita nanti sempat menikmati wisata di lautan? Ekosistem laut yang gencar di muat dalam media seperti Pesona Indonesia, ternyata juga tidak mencerminkan laut secara keseluruhan. Media kini beralih fungsi sebagai alat untuk perwajahan penguasa saja. Mereka tidak peduli dengan keniscayaan para penguasa yang tergambar dalam film TheBajau. Bahkan media independent seperti Aliansi Jurnalis Independen yang mencoba memuat kebenaran dan keterbukaan malah diadili dan dilucuti. Pelucutan tersebut merupakan bagian kehinaan atas konstutusi negara ini. Kontitusi dengan regulasi haruslah menjadi alat untuk kesejahteraan rakyat bukan mayat.
Harapan besar tertuju pada masyarakat burjoasi kecil dan orang-orang yang peduli akan kelestarian lingkungan. Mereka yang mempunyai keilmuan untuk pengelolaan informasi tanpa terbatas dengan jaringan yang lebih luas tentunya mampu untuk menggapai itu. Harapan tersebut hadir dikarenakan adanya penutupan akses untuk melihat kondisi sakitnya bangsa ini. Media adalah pelaku yang membatasi akses informasi tersebut dengan mengabarkan hal-hal tak penting sebenarnya. Kaum borjuasi kecil yang punya keilmuan sebagai kaum minoritas dengan Pendidikan paling tinggi tentunya haruslah membersamai rakyat yang tertindas. Tapi sialnya, Pendidikan yang diharapkan tidaklah ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada rayat. Hal tersebut tentunya memperparah perjuangan rakyat seperti masyarakat Bajau.
Masyarakat Bajau, masyarkat Papua yang termiliterisasi dalam kehidupannya, dan masih banyak contoh kasus lain harusnya menjadi refleksi kita bersama. Keadaan yang sulit untuk mempertahankan kehidupanya terasa diabaikan oleh masyarakat bangsa ini secara umum. Sering kali kita hanya fokus terhadap apa yang kita hadapi saja, seperti mengejar nilai dalam pengajaran atau tertipu dengar hinga perkuliahan saja. Padahal, di luar sana beribu bahkan berjuta rakyat Indonesia merintih kesakitan dan hanya berharap ada yang mendengar bisik gugatan keadilan.
Dia yang mengintuisiku saat pertama kali melihat, bukan karena parasnya tetapi karena kharismanya, walaupun tanpa melakukan apapun dia sungguh tak terbayangkan. Sungguh dirimu layaknya sang mentari menyinari serumpun mahluk hidup dibumi, dari kegelapan malam yang suram. Dialah sang pagi yang ditunggu kedatangannya oleh seluruh insan maupun mahluk hidup yang ada di bumi. Langkah kaki mendekat menghampirinya, bukan gemetar kaki namun gemetar diri. Simpul menggerai senyum, melebar membuka sinar terpancar.
Tari mengenalkan temannya padaku. Aku mendekati menawarkan tangan beriring dengan senyum terbaik sambil merapikan rambut. Tangan indahnya menyulur menyambut tangan eksotik korban sengat sang surya yang keji padaku. Bibir getar membuka melengket mengucap “Namaku Arga”. Tatapnya menikam laksana membungkam setiap gerak sudut badanku. Tatap yang menghardik diikuti dengan lengkung sabit memudar membuka lisan yang hendak mengucap namanya. Gaduh sungguh dirasa, dada kiri berdegup tak beraturan mengacau akal sehatku. Bibir nan indah membuka lalu terdengar suara harmoni merdu menghasut kesadaranku. Dia berkata ” iyaa, kenalin namaku……….
Roger mendarat dengan mulus, pada salah satu bilik pendaratan. Akupun mulai berjalan bersanding dengan kantuk tak tertahankan. Sesampainya di kelas, ransel kuletakan diatas meja bagai bantal dan tidur merupakan vonis final oleh rasa lelap yang mendalam. Teman yang lalu lalang tak dihiraukan lagi olehku. Tanpa kusadari jam menunjukan waktu selesai mata kuliah berlalu apalagi dosen masuk dan keluar, tiba-tiba ketika aku terbangun sang komting bernama Febri meberitahukan adanya ukm expo. Ukm itu sendiri semacam ekstrakulikuler pada saat sma dan entah kenapa badan ini seperti dicambuk dan berhasrat datang ke acara itu. Walaupun teman-teman diam saja aku langsung beranjak lalu memanggil roger untuk menemaniku.
Broom….broom tak butuh waktu lama sampailah di expo tersebut. Begitu ramai dan sangat menarik meliputi banyak fakultas yang berpadu satu diexpo tersebut. Tiap langkah kaki pasti ada hingar orang bertemu disana. Dret….dret… Getar hp berbunyi ditengah perjalanan mengintari stand-stand yang ada. Tanpa berlama-lama akupun membukanya….begitu tak disangka aku mendapatkan pesan wa dari teman lamaku yaitu Tari. Tari adalah seorang teman masa kecilku pada saat sekolah dasar, simplenya begitu. Tari juga mahasiswa di universitas yang sama namun, beda fakultas denganku. Begitulah singkat cerita tentang Tari, jadi dia bilang bahwasanya dia sedang diexpo ukm bersama dengan teman satu fakultasnya. “Waah..ya kebetulan juga kan, aku sendiri datang ke expo” pikirku . Pada akhirnya akupun memutuskan untuk menemui Tari dan temannya. Berawal dari situlah aku bertemu sang dia. Dia yang…….
Namaku Arga seorang mahasiswa baru salah satu ptn di negeri ini. Seperti kebanyakan maba, rasa ingin tau dan semangat explorasi yang menggebu-gebu membangkitkan hasrat untuk mengetahui banyak hal dalam lingkup dunia kampus. Berawal dari situlah, kisah ini mulai mengisi hari-hariku sebagai seorang mahasiswa. Terik matahari mulai menelisik memunculkan kedigdayaannya. Pagi itu, kehidupan baru bangku perkuliahan dimulai. Bangun pagi merupakan suatu hal yang berat, bukan karena bangunnya tetapi karena mandinya. Yah..jorok memang, tapi kebanyakan cowo juga mempunyai permasalahan yang sama. Setelah berdebat panjang dengan sang malas akupun memutuskan untuk tidak mandi. Cuci muka lalu sikat gigi tidak lupa walaupun ga mandi. “Jolly Roger” motor tua yang menjadi teman setia ketika ke kampus. Walaupun roger suka ngambek, hari itu dia sedang bersemangat juga seperti temannya aku. Gagah berani masih bisa ditunjukan ketika dijalan raya, apalagi ketika dalam mode ‘amuan’ aku menyebutnya. Suara berkharisma yang khas dan garang ketika mulai dipacu ketangguhannya. Sepanjang jalan tak ada yang remeh meragukannya…
Kala hening mengintusi malam..Ada hampa yang seraya memejam..Memejamkan imaji menghidupkan rasa..Imaji akan diri…rasa akan dilema..
Begitulah cinta ini ada tanpa harus mengada ada..Memang ada namun bersanding dengan asa..Walaupun bersanding apa daya tak bersama..Bukan karna penolakan hanya saja tak berani..Berani bersama tak sanggup berarung…